Sunday, June 17, 2012

Laporan Magang Kerja



JUDUL :
PENGELOLAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN SISTEM KEMITRAAN DI PT MEGANUSA INTISAWIT-PERKEBUNAN INDRAGIRI, DESA KUALA GADING

MAGANG KERJA

Yulianto Nugroho
0810483050









UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2011




Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala limpahan rahmat, karunia dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir magang kerja yang berjudul Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan di PT Mega Nusa Inti Sawit-Perkebunan Indragiri, Desa Kuala Gading.
Penulis menyadari telah banyak menerima bantuan dalam menyelesaikan laporan akhir magang kerja ini, sehingga penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih banyak atas segala bantuan serta dukungan yang tulus dan ikhlas dari semua pihak, terutama kepada:
1.      Dr. Ir. Bambang Triraharjo, MS selaku Ketua Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
2.      Dr. Ir. Gatot Mudjiono selaku dosen pembimbing utama.
3.      Ir. Suprayitno selaku Estate Manager INDE.
4.      Bapak Muliono selaku Askep INDE (pembimbing lapang).
5.      Bapak-bapak Asisten INDE yang telah bersedia ikut membimbing dengan penuh kesabaran.
6.      Kedua orong tua saya beserta keluarga yang senantiasa memberikan motivasi, bimbingan, dan kesabaran.
7.      Tema-teman HPT’08 dan semua pihak, terimakasih  atas dukungan dan semangatnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan akhir magang kerja ini masih terdapat kekurangan sehingga penulis mengharapkan saran dan masukan untuk penyempurnaannya.
Akhirnya penulis berharap semoga laporan akhir magang ini dapat diterima dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.


                                                                                                Malang, 30 November 2011

                                                                                               

                                                                                                                        Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
1.1.1.   Penjelasan Perlunya Magang Kerja
Magang kerja merupakan salah satu bentuk kegiatan  akademik yang wajib dilaksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Magang kerja ini mempunyai bobot nilai 4 SKS dan dilaksanakan oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan matakuliah wajib program studi. Magang kerja dilakukan pada Perusahaan/Perkebunan/Instansi atau pihak lain yang terkait dengan program studi mahasiswa, terutama dengan pertanian untuk mendapatkan pengalaman di lapang serta menerapkan ilmu pengetahuan yang selama ini di dapat di perkuliahan.
Diharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan Magang kerja, mahasiswa akan memiliki pengalaman yang lebih luas. Dengan Dilaksanakannya Magang Kerja ini mahasiswa akan dapat membandingkan teori yang diperolehnya dari perkuliahan maupun literature dengan fakta yang ada di lapang. Mahasiswa juga diharapkan akan lebih mendalami secara spesifik mengenai permasalahan yang berhubungan dengan program studinya khususnya hama dan penyakit tanaman yang akan di pilih kelak sebagai salah satu tugas akhir. Sehingga sebelum melakukan penelitian mahasiswa diharapakan mendapatkan bekal untuk mempermudah dalam pengerjaan skripsi.
Di samping itu dengan dilaksanakannya Magang kerja, mahasiswa diharapkan dapat berfikir mandiri dalam usaha menangani setiap masalah yang muncul dan memiliki kaitan erat dengan disiplin ilmunya.
1.1.2.   Alasan Pemilihan Objek Magang kerja
Beberapa isu nasional seperti angka pengangguran yang cenderung tinggi, kemiskinan yang cenderung meningkat, kelangkaan energy, adanya kerusakan lingkungan, dan melemahnya sektor riil di Indonesia menjadi kebijakan pembangunan pertanian yang focus pada komoditas perkebunan diharapkan berperan besaar di bidang ekonomi, social, daan lingkungan. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) termasuk dalam komoditas utama untuk diunggulkan.
Program pengembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan pola kemitraan (plasma) skala besar sangat menguntungkan bagi berbagai aspek, baik ekonomi, social, maupun lingkungan. Ditinjau dari aspek ekonomi, perkebunan kelapa sawit dapat mendukung industry dalam negeri berbasis produksi berbahan dasar kelapa sawit. Ditinjau dari aspek social, terjadi penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar daan memperkecil kesenjangan pendapatan petani deengaan pengusaha perkebunan. Dari aspek lingkungan, adanya peengeembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit di lahan yang telah lama terbuka daan tidak produktif akan merehabilitasi lahan kritis daaan marginal dalam sekala yang luas.
Komoditas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah berkembang keberbagai daerah di tanah air, dari Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Barat, Sumatra Selaataan, Bengkulu, Lampung, Kepulaauaan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimaantaan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit banyak berhubungan dengan masyarakat sehingga rawan konflik berkaitan dengan hokum, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat. Komunitas social cenderung semakin terdidik, mengerti, dan sadaar hak (jaringan mudah), sehingga semakin agresif menuntut haknya. Kadang-kadang juga mudah dimanfaatkan pihak ketiga. Kemitraan adalah solusi terbaik untuk membangun harmonisasi hubungan yang saling menguntungkan, khususnya antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat d sekitarnya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004, konsep kemitraan adalah perusahaan perkebunan sebagai inti melakukan kemitraan yang saling menguntungkan, saling menghargai, memperkuat, bertanggung jawab, daan saling ketergantungan dengan masyarakat di sekitar perkebunan sebagai plasma. Perusahaan dan petani peserta plasma sebaiknya harus bermitra. Pasalnya, adanya kemitraan akan membantu memperbesar skala usaha petani dan meningkatkan efisiensi produksi perusahaan.



1.2. Tujuan Magang Kerja
1.2.1. Tujuan Umum
1.   Melengkapi pengetahuan, keterampilan dan pemahaman yang tidak di dapat langsung  dari bangku kuliah.
2.   Mendapatkan pengalaman, pengenalan dan pengamatan visual secara langsung tentang keadaan dan  kondisi yang ada di lapang.
3.   Latihan di dalam menyusun laporan untuk suatu penugasan.
1.2.2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mengetahui:
1.   Pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
2.   Program kemitraan dalam perkebunan kelapa sawit plasma.
3.   Teknik budidaya tanaman kelapa sawit plasma.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kemitraan
Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secar individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu.
Untuk membangun sebuah kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut :
a)      Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan,
b)      Saling mempercayai dan saling menghormati
c)      Tujuan yang jelas dan terukur
d)     Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.
Adapun prinsip-prinsip kemitraan adalah 1) Persamaan atau equality, 2) Keterbukaan atau transparancy dan 3) Saling menguntungkan atau mutual benefit.
Menurut Anonymaus(a) 2011. Definisi menurut peraturan perundang-undangan yang telah dibakukan sebagai berikut :
a.    Menurut Undang-Undang Nomor. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Pasal 1 angka 8.
“Kemitraan adalah kerja sama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah atau dengan Usaha Besar disertai pembinaan dan Pengembangan oleh Usaha Menengah atau Usaha Besar dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan”.
b.   Menurut Peraturan Pemerintah Nomor. 44 Tahun 1997 tentang kemitraan, Pasal 1 angka 1.
“Kemitraan adalah kerja sama usaha antar a Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan”.
2.2 Pola Kemitraan Perkebunan
Menurut Sunarko (2009). Secara garis besar di Indonesia terdapat tiga pola kemitraan, yaitu Pola PIR, Pola KKPA, dan Pola PRP.
1.   Kemitraan Pola PIR
Kemitraan Perusahaan Inti Rakyat (PIR) merupakan kemitraan perkebunana generasi pertama yang dimulai pada tahun 1980-an. Program PIR merupakan pola perngembangan perkebunan rakyat dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti sekaligus sebgai pelaksana pengembangan kebun plasma. Pola ini awalnya dibangaun Perusahaan Perkebunan Negara untuk masyarakat di wilayah pedesaan.
Dalam pola ini, perkebunan besar membangun kebun inti, pabrik, lalu membangun plasma. Secra rinci, pekerjaan pembangunan program PIR meliputi tiga tahap. Tahap pertama, prusahaan inti melaksanakan pembangunan kebun. Pada tahap kedua, dilakukan pengalihan kebun kepada petani plasma dan akad kredit konversi. Selanjutnya, tahap ketiga dilakukan pengembalian atau pelunasan kredit (hutang petani).
Tanaman kelapa sawit dikonversi kepada masyarakat (petani plasma) setelah dirasakan cukup menghasilkan, disertai tanggung jawab untuk memelihara kebun dan mengelola usaha taninya. Petani plasma yang diberi tanggung jawab untuk mengembalikan kredit investasi pembangunan kebun plasma kepada pihak perbankan.
Program PIR sangat baik dan bermanfaat bagi masyarakat, setidaknya mampu membuka isolasi wilayah dengan dibangunnya jalur transportasi. Program PIR telah mampu menggerakan perekonomian didaerah pedalaman karena berputarnya uang dalam jumlah besar. Namun di lapanagan, program PIR banyak menghadapi kendala, baik kendala teknis budidaya perawatan kebun maupun kendala non teknis seperti menejemen usaha tani dan menejemen ekonomi rumah tangga petani.
Permasalahan teknis yang menonjol dari program PIR adalah kondisi tanaman yang populasinya tidak penuh (kerapatan tanaman di bawah standar, kurang dari 136 pohon per hektarnya) dan pertumbuhannya tidak standar. Hal ini mengakibatkan produktivitas rendah dan terus merosot (kurang dari 12 ton/hektare/tahun). Ditambah lagi dengan perilaku petani yang tidak sesuai aturan teknis budidaya tanaman.
Sementara itu, permasalahan non teknis yang sering terjadi adalah macetnya pengembalian kredit dari petani. Secara tidak langsung masalah ini merupakan efek lanjut dari maslah teknis. Hasil kebun yang rendah mengakibatkan pendapatan petani berbukang dan tidak mampu membayar kredit. Selain factor pendapatan petani, kredit macet disebabkan oleh kurangnya sosialisasi nilai kridit sehingga banyak petani yang tidak paham. Selain itu mungkin juga disebabkan oleh pihak perbankan atau perusahaan inti yang kurang aktif dalam melakukan penagihan.
Masalah-masalah yang terjadi di lapangan tersebut utamanya dipicu oleh kurangnya pembinaan dan pendampingan dari dinas (instasi) terkait maupun dari pihak perusahaan inti setelah kebun diserahkan kepada petani plasma. Ditambah lagi, pendekatan perusahaan banyak hanya berorientasi kepada produksi.
2.   Kemitraan Pola KKPA
Berdasarkan kemitraan dengan pola PIR, kebun plasma kurang terwat dan produktivitas rendah, sehingga perusahaan inti mengalami kekurangan pasokan TBS dan angsuran kredit menjadi macet. Pola PIR juga menjadikan petani banyak yang menjual TBS keperusahaan lain untuk menghindari angsuran, bahkan menjual kavlingnya. Banyak kendala dan dampak negative yang terjadi pada petani, perusahaan, maupun bank. Karena itu, pemerintah mulai mencari pola lain yang diharapkan dapat memperbaiki pola PIR, yakni dengan lebih banyak memberikan tanggung jawab kepada perusahaan inti dan memperbaiki peran kelembagaan petani plasma. Akhirnya dibentuk pola KKPA (Kredit Koperasi Primer kepada Anggota).
Kemitraan pola KKPA merupakan pola kemitraan perusahaan inti dan petani dalam wadah koperasi untuk meningkatkan daya guna lahan petani peserta dalam usaha meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan para anggota melalui kredit jangka panjang dari bank. Perusahaan inti sebagai pengembang melaksanakan pembangunan kebun kelapa sawit untuk petani pesrta dengan biaya pembangunan dari kredit bank hingga tanaman kelapa sawit menghasilkan. Perusahaan inti juga membangun kelembagaan petani sebagai wadah pembinaan dan bimbingan petani peserta mengenai budadaya dan menejemen perkebunan kelapa sawit. Pembinaan minimum dilakukan selama satu siklus tanam.
Pada pola kemitraan KKPA, perusahaan inti bertanggung jawab atas pengembalian kredit bank. Angsuran kredit ini diambil dari pemotongan hasil jual TBS dari petani plasma. Artinya, petani wajib menjual hasil kebunnya pada perusahaan inti. Dalam hgal ini, perusahaan inti wajib membeli hasil TBS petani plasma dengan harga yang telah ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Selama proses ini, koperasi sebagai wadah petani berhak untuk melakukan pengawasan pada perusahaan inti. Selanjutnya, setelah semua kewajiban petani anggota terselasaikan, perusahaan inti wajib menyerahkan sertifikat kebun kepada petani.
Dampak positifnya adalah produktivitas kebun menjadi lebih baik, pendapatan petani lebih baik, dan angsuran kredit menjadi lebih lancar. Kemungkinan beralihnya kepemilikan kaveling pun makin kecil. Selain itu, akan tercipta kesadaran petani untuk menjalankan fungsi pengawasan kegiatan operasional kebun.
Namun, pada kemitraan pola KKPA kendala dapat pula terjadi, terlebih setelah kebun diserahkan ke petani. Beberapa di antaranya adalah ketidakseragaman petani atau kelompok tani dalam melakukan tanggung jawabnya untuk mengelolah kebun setelah kebun diserahkan. Ada petani yang sangat serius dalam perawatan kebun, ada juga petani yang kurang perhatian terhadap kebunnya.
3.   Kemitraan Pola PRP
Pemerintah menyiapkan Program Revitalisasi Perkebunan (PRP) yang merupakan kemitraan perkebunan generasi II pada tahun 2006. Berdasarkan pedoman umum program revitalisasi perkebunan, konsep kemitraannya adalah kerjasama usaha antara petani perkebunan (plasma) dengan perusahaan perkebunan (inti) sebagai mitra usaha dengan prinsip yang saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan.
Program PRP diharapkan dapat lebih mensejahterakan petani plasma dan mampu mengamankan kepentingan perusahaan inti dan pihak perbnkan, baik itu produksi maupun angsuran kreditnya. Perusahaan (inti) ditetapkan sebagai developer dan availis. Artinya, inti bertanggung jawab untuk membangunkan kebun dan menyediakan atau mencarikan dananya. Dengan demikian, fungsi dan perannya menjadi lebih nyata (lebih bertanggung jawab sampai dengan terwujudnya kebun dan lunasnya kredit petani).
Pada pola PIR, pendampingan dan pemberdayaan petani menjadi lebih terencana dengan kontrak manajemen selama satu siklus dan system manajemen satu atap. Pengolahan keseluruhan kebun, baik milik perusahaan inti maupun milik petani plasma mendapat perlakuan yang sama, mulai dari persiapan penanaman, pengelolaan kebun, hingga pengolaan hasil. Pengolahan kebun plasma selama satu siklus tanaman melibatkan petani semaksimal mungkin, sehingga stabilitas produksi usaha tani, dan pendapatan petani plasma lebih diprioritaskan.
Calon lahan plasma khususnya program revitalisasi harus dimintakan izin lokasi dan dinas yang terkait dan bupati setempat. Calon petani peserta juga harus ditetapkan dengan SK Bupati. Sedangkan untuk sosialisasi kredit sebaiknya jelas dan transparan tentang banyaknya dana yang tersedia dan perkiraan banyaknya dana yang akan digunakan sehingga dapat diketahui kemungkinan adanya dana kurang atau masalah dana lainnya. Apabila dana diperkirakan akan kurang, perlu disosialisasikan untuk mencari jalan keluarnya dengan tidak membebani petani dan juga tidak memberatkan perusahaan. Jika tidak didapat jalan keluar yang baik, yang harus mengalah adalah perusahaan inti.
Selanjutnya, pihak perusahaan harus menguatkan kelembagaan petani seperti kelompok tani dan KUD. Intensitas hubungan antara perusahaan dengan petani lebih ditingkatkan sehingga hal negative seperti pada kemitraan PIR (rendahnya produksi, pindahnya hasil produksi ke pihak lain, dan terjadi kredit macet) dapat diminimalkan dengan adanya kelembagaan petani yang kuat, tangguh, dinamis, dan produktif.
2.3 Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
2.3.1 Kesesuaian Lahan
Menurut Sunarko (2009). Pemilihan lahan ini pada prinsipnya harus mempelajari kondisi lingkungan calon lokasi perkebunan tersebut. Lingkungan tumbuh sangat mempengaruhi kemampuan tanaman kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan potensi produksi TBS.
A.     Jenis Tanah, Ketinggian Tempat, Dan Kemiringan Tempat
Kelapa sawit dapat tumbuh di beberapa jenis tanah seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Kemampuan kelapa sawit untuk berproduksi di setiap tanah akan berbeda. Hal ini disebabkan sifat fisik dan kimia setiap jenis tanah berbeda, sehingga tingkat kesuburannya pun berbeda.
Pertumbuhan dan produktivitas kelapa sawit akan optimum jika ditanam di ketinggian tempat maksimum 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Kelapa sawit yang ditanam di ketinggian 500 mdpl biasanya akan menyebabkan keterlambatan berbunga satu tahun dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.
Selain ketinggian tempat, kemiringan tanah pun perlu diperhatikan. Kelapa sawit sebaiknya ditanam di lahan yang memiliki kemiringan 0 - 12° atau 21% (derajat kemiringan dihitung berdasarkan panjang garis proyeksi dan tingginya, kemiringan 45° sama dengan 100%).
Table 1. Sifat fisik tanah untuk tanaman kelapa sawit
Sifat Tanah
Baik
Sedang
Kurang
Lereng (derajat)
<12
12 – 23
>23
Kedalaman tanah (cm)
>75
37,5 – 75
<37,5
Ketinggian air tanah (cm)
>75
37,5 – 75
<37,5
Tekstur
Lempung
Berpasir
Pasir
Struktur
Kuat
Sedang
Lemah (masif)
Konsistensi
Gembur
Teguh
Sangat teguh
Keasaman tanah (pH) menentukan ketersediaan dan keseimbangan unsur hara dalam tanah. Tanaman kelap sawit dapat tumbuh pada pH 4 – 6,5 dengan pH optimum 5 – 5,5.
B.  Iklim
Keadaan iklim sangat mempengaruhi proses fisiologis tanaman seperti asimilasi pembentukan bunga dan penyerbukan.
Curah hujan yang ideal bagi tanaman kelapas awit yakni 2.000 – 2.500 mm per tahun dan tersebar merata setiap tahun. Curah hujan berguna untuk meminimalkan penguapan dari tanah dan tanaman.
Begitu juga cahaya matahari diperlukan untuk memproduksi karbohidrat saat proses asimilasi dan memacu pembentukan bunga dan buah. Lama penyinaran matahari minimum 1600 jam per tahun atau selama 5 – 7 jam/hari. Sementara itu suhu optimum bagi kelapa sawit berkisar 27 - 29° C. Kelembapan optimum bagi pertumbuhan kelapa sawit yakni 80 – 90%.
C.  Kelas Lahan
Penyusunan klasifikasi kemampuan setiap lahan tergantung dari iklim, topografi, keadaan fisik, sifat kimia lahan, erosi, dan drainase. Potensi lahan untuk kelapa sawit dibedakan menjadi empat kelas lahan, yakni S1 (sangat sesuai), S2 (sesuai), S3 (agak sesuai), dan N1 (tidak sesuai).
Table 2. Kelas lahan untuk perkebunan kelapa sawit
Uraian
Kelas S1
Kelas S2
Kelas S3
Kelas N1
Tinggi tempat (meter)
0 – 400
0 – 400
0 – 400
0 – 400
Topografi
Datar
Berombak
Berbukit
Curam
Lereng (%)
0 – 15
16 – 25
25 – 36
>36
Genangan
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Sedikit
Drainase
Baik
Sedang
Kurang
Jelek
Kedalaman tanah (cm)
>80
80
60 – 80
<60
Bahan organic (cm)
5 – 10
5 – 10
5 – 10
<5
Tekstur
Lempung – liat
Liat – berpasir
Berlempung
Liat atau pasir
Batuan (%)
<3
3 – 15
15 – 40
>40
Air tanah (cm)
>80
60 – 80
50 – 60
40 – 50
pH
5 – 6
4,5 – 5
4 - 4,5 atau 6,5 – 7
<4 atau >7
Curah hujan (mm)
2. 000 – 2.500
1.800 – 2.000
1.500 – 1.800
<1.500
Deficit air (mm)
0 – 150
150 – 250
250 – 400
>400
Temperature (°C)
22 – 26
22 – 26
22 – 26
22 – 26
Penyinaran (jam)
6
6
6
<6
Kelembapan (%)
80
80
80
80
Angin
Sedang
Sedang
Sedang
Kencang
Bulan kering
0
0 – 1
2 – 3
>3
Hari tanpa hujan
<10
<10
<10
<10
2.3.2 Klasifikasi dan Botani Kelapa Sawit
Menurut Anonymous(b) 2011. Klasifikasi tanaman kelapa sawit adalah:
Kerajaan             : Plantae
Divisi                  : Magnoliophyta
Kelas                  : Liliopsida
Ordo                   : Arecales
Famili                 : Arecaceae
Genus                 : Elaeis
Species               : Elaeis guineensis
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
Ø   Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
Ø   Mesoskarp, serabut buah
Ø   Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).
2.3.3 Pembibitan
a.   Pembibitan Awal (Prenursery)
Pembibitan awal (prenusery) merupakan tempat kecambah kelapa sawit (germinated seeds) ditanam dan dipelihara hingga berumur tiga bulan. Selanjutnya, bibit tersebut akan di pindahkan ke pembibitan uatama (main nursery). Pembibitan prenusery dilakukan selama 2 – 3 bulan, sedangkan pembibitan main nursery selama 10 – 12 bulan.

Ø Persyaratan Lokasi
Lokasi untuk pembibitan awal sebaiknya datar atau kemiringan tanah maksimum 3°, bagaian atas bedengan sebaiknya memiliki naungan berupa atap buatan atau pohon.
Lokasi sebaiknya dekat dengan sumber air. Kondisi debet air harus tetap dan tidak mengandung kapur (pH netral).
Ø Penyiapan Babybag (polybag kecil)
Polybag kecil yang digunakan sebaiknya berwarna hitam, jika terpaksa bisa menggunakan polybag kecil berwarna putih.  Polybag berukuran panjang 14 cm, lebar 8 cm, dan tebal 0,14 cm. selain itu bisa menggunakan babybag hitam dengan ukuran 14 x 22 x 0,07 cm.
Ø Penanaman Kecambah
Dua hari menjelang penanamna kecambah, media tanam yang berada di dalam babybag harus disiram setiap pagi. Gemburkan permukaan media dengan jari telunjuk atau ibu jari, kemudian buat lubang untuk meletakan kecambah.
Masukkan kecambah sedalam 1,5 – 2 cm dibawah permukaan tanah, lalu ratakan kembali hingga menutup keccambah tersebut. Bagian bakal akar (radikula) harus mengarah kebawah dan bakal daun (plumula) mengarah ke atas.
Ø Naungan
Naungan (pelindung) bisa berupa berupa pohon hidup atau naungan buatan yang terbuat dari daun kelapa sawit. Ukuran tinggi tiang 2 m (depan belakang sama) dan jarak antar tiang tiga meter. Naungan dipertahankan hingga kecambah berdaun 2 – 3 helai. Pengurangan naungan dilakukan setelah bibit berumur 6 minggu. Setiap dua minggu dikurangin satu cabang daun.
Ø Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur, yakni pada pagi hari saat pukul 06.00 – 10.30 dan sore dimulai pukul 15.00. volume air yang disisramkan sekitar 0,25 – 0,5 liter per bibit.
Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh di babybag menggunakan tangan.

Ø Pemupukan
Selama tiga bulan di prenursery biasanya bibit tidak dipupuk. Namun, jika tampak gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning, bibit perlu dipupuk dengan menggunakan pupuk N dalam bektuk cair. Konsentrasi pupuk urea atau pupuk majemuk sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air untuk 100 bibit.
Ø Proteksi dan Seleksi
Serangan hama dan penyakit selama di prenursery biasanya belum ada. Jika ada, dapat diberantas dengan diambil menggunakan tangan (hand picking). Serangan penyakit yang berasal dari sejenis jamur dapat dikendalikan dengan fungisida yang banyak dijual di pasaran, seperti Dithane, Sevin, dan Anthio dengan dosis sesuai yang dianjurkan.
Seleksi dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke main nursery. Seleksi bibit di prenursery bertujuan untuk mencari bibit yang menyimpang. Bibit menyimpang dapat diakibatkan oleh faktor genetis, kerusakan mekanis, serangan hama dan penyakit, serta kesalahan kultur teknis.
b.   Main Nursery
Ø Penyiapan Polibag
Polybag yang digunakan sebaiknya berwarna hitam (100% carbon black) dengan  panjang 42 cm, lebar 33 cm atau berdiameter 23 cm, dan tebal 0,15 cm. polybag diberi lubang berdiameter 0,5 cm sebanyak dua baris. Jarak anatar lubang 7,5 x 7,5 cm.
Ø Penanaman
Sehari sebelum penanaman, media tanam dalam polibag harus disiram. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang di polybag seukuran dengan diameter babybag. Masukkan bibit beserta tanahnya (ball of eart) kedalam lubang, lalu atur agar posisisnya tegak seperti semuala.
Ø Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah yang cukup. Jika musim kemarau, siram bibit dua kali sehari yakni pada pagi dan sore hari.kebutuhan air penyiraman sebanyak 2 liter air/bibit/hari.
Penyiangan dilakuakan dengan mencabut gulama yang tumbuh dalam polybag, sekaligus menggemburkan tanah dengan cara menusukkan sepotong kayu.
Ø Pemupukan
Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit. Di main nursery, lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg dengan komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2, serta ditambah kieserite (pupuk yang mengandung unsur Cad an Mg).
Table 3. Rekomendasi pemupukan bibit kelapa sawit di main nursery (gram per bibit)
Umur (minggu ke-)
Pupuk N-P-K-Mg
(15-15-6-4)
Pupuk N-P-K-Mg
(12-12-17-2)
Kieserite
14
02,5


15
02,5


16
05.0


17
05.0


18
07,5


20
07,5


22
10,0


24
10,0


26

10,0

28

10,0
05,0
30

10,0

32

10,0
05,0
34

15,0

36

15,0
07,0
38

15,0

40

15,0
07,5
42

20,0

44

20,0
10,0
46

20,0

48

20,0
10,0
50

25,0

52

25,0
10,0
Ø Hama dan Penyakit
Hama
Menurut Yan Fauzi dkk (2002), Beberapa jenis hama yang banya ditemukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya:
1.      Kumbang Malam
Gejala
Helaian daun berlubang-lubang. Di atas daun sering ditemukan kotoran-kotoran kumbang. Daun yang terserang akan tampak mengering dan secara umum pertumbuhan tanaman lebih kurus dan merana.
Penyebab
Adoratus sp. dan Apogonia sp. Kumbang tersebut menyerang tanaman pembibitan dan tanaman belum menghasilkan. Jenis Adoratus sp. Berwarna coklat dan terdapat bercak putih. Pada sayapnya terdapat bulu-bulu halus. Ukurannya dapat mencapai 1,5 cm. Untuk Apogonia sp. berwarna hitam atau coklat tua mengkilap dan tidak terdapat bulu halus pada sayapnya. Ukurannya mencapai 12 cm. Kumbang aktif memakan daun pada malam hari dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah.
Pengendalian dan pembrantasan
Pengendalian hama dengan melakukan sanitasi lingkungan di sekitar tanaman, seperti pembersihan gulma. Jika hama sudah tidak dapat dikendalikan, sebaiknya disemprot insektisida Dipterex 700 ULV yang berbahan aktif triklorfon 707 g/l atau Dipterex berbahan aktif triklorfon 95%. Dosis yang digunakan adalah 1 kg/ha. Pembrantasan secara biologis dengan menggunakan jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. Dapat juga dengan penyebaran predator seperti kumbang, lalat, semut, rayap, tokek, ulat, dan burung.
2.      Tungau
Gejala
Menyerang daun bagian bawah terutama pada daun tua. Warna daun akan berubah menjadi perunggu mengkilap. Hama ini menyerang pada pesemaian atau pembibitan.
Penyebab
Tungau merah (oligonychus) yang panjangnya 0,5 mm. Hidup di sepanjang tulang anak daun sambil menghisap cairan daun. Hama ini membahayakan dan berkembang pesat dalam keadaan cuaca kering di musim kemarau.
Pengendalian dan pemberantasan
Penyemprotan dengan akarisida Tedion 75 EC yang mengandung bahan aktif tetradifon  75,2 g/l dengan konsentrasi 0,1 – 0,2 %. Dapat pula di semprotkan dengan insektisida Perfekthion dengan bahan aktif dimetoat dengan konsentrasi 0,1%.
3.      Tikus
Gejala
Pada pembibiitan, tikus menyerang bagian pucuk daun. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM), memakan pelepah daun, sedangkna pada tanaman menghasilkan (TM) menyerang buah baik buah mentah maupun buah masak. Apabila menyerang titik tumbuh, dapat menyebabkan kematian. Dalam kondisi yag tidak terkendali, populasi tikus dapat mencapai 300 ekor/ha. Kondisi demikian dapat menurunkan produksi 5 – 15%.
Penyebab
Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp.). hama ini tergolong mamalia. Menyerang tanaman pada semua umur, mulai dari pembibita hingga tanaman menghasilka.
Pengendalian dan pemberantasan
Hama tikus pada umumnya sulit diberantas, karena daerah hidupnya sangat luas. Pemberantasan dapat dilakukan secara eposan pada sarangnya. Secara biologis dengan predatator kucing, ular, dan burung hantu (Tyto alba).
4.      Babi hutan
Gejala
Pada umumnya serangan hama babi hutan selalu menyebabkan kematian tanaman kelapa sawit muda. Hama ini akan membongkar dan mencabut umbut sawit hingga keluar dari dalam tanah. Umbut tersebut dimakan sampai habis, dan meninggalkan bekas berupa potongan pelepah daun tanaman. Dalam satu malam, untuk satu ekor babi hutan dapat menghabiskan puluhan batang tanaman kelapa sawit muda.
Penyebab
Babi hutan yang umumnya menyerang tanaman kelapa sawit hingga berumur sekitar 24 bulan adalah jenis Sus scrofa L. dan jenis Sus barbatus Muller. Untuk jenis yang pertama, warnanya hitam dan senang sekali hidup berkelompok. Dalam satu kelompok dapat mencapai sekitar 5 – 50 ekor. Babi ini sering ditemukan keluar mencari makan menjelang pagi hari (subuh) hingga pukul 07.00 dan pada sore hingga malam hari pukul 17.00 – 22.00. Di luar waktu tersebut, babi bersembunyi di semak-semak belukar atau rumpun alang-alang, baik itu yang berada di sekitar atau perbatasan kebun.
Untuk jenis yang kedua di sebut juga dengan babi janggut karena pada jantan tumbuh janggut di tengah-tengah moncongnya. Bentuk tubuhnya lebih besar dari jenis yang pertama dan berwarna abu-abu kemerahan. Dalam interval waktu tertentu, sangat suka mengembara atau berpindah-pindah tempat dalam satu kelompok yang cukup besar, sehingga sering menyebabkan terjadi serangan terhadap tanaman utama secara tiba-tiba serta pada areal yag cukup luas.
Pengendalian dan pemberantasan
Ada beberapa cara yang dilakukan, diantanranya:
Ø  Penanaman bibit tua
Cara ini banyak dilakukan pada perkebunan kelapa sawit yang mendapat serangan babi di atas ambang toleransi, yaitu dengan menanam bibit yang telah berumur 20 bulan karena lebih tahan terhadap serangan hama babi hutan. Namun, sebaiknya menanam bibit yang sudah mencapai umur 24 bulan. Pada umur tersebut, bibit benar-benar tahan terhadap serangan hama babi karena pada bagian pangkal batang, pelepah, dan durinya telah cukup keras dan banyak. Namun, cara ini dapat menghambat pertumbuhan dan masa produksi tanaman selama 6 bulan. Selain itu, biaya penanaman akan menjadi lebih mahal.
Ø  Pemasangan kawat duri atau kawat harmonika
Kawat duri atau kawat harmonika dipasang di sekeliling areal tanaman kelapa sawit yang baru ditanam. Perlindungan dengan cara ini berfungsi untuk melindungi seluruh tanaman dari serangan hama babi. Cara pengendalian seperti ini cukup efektif karena tingkat keberhasilan perlindungan terhadap tanaman dapat mencapai 100%. Sebelum kawat dipasang, siapkan tiang berdiameter 10 cm setinggi 1,85 m. Jarak antar tiang selebar 2 m. Selanjutnya, tiang-tiang tersebut ditancapkan sedalam 0,5 m dengan baik dan benar di sekeliling areal. Posisi tiang berada di seputar perbatasan antara lingkungan kebun dengan lingkungan di luar kebun. Setiap 5 batang tiang atau setiap jarak 10 m, dapat di pasang ting penyanggah. Selain itu, bentangkan dan pakukan lapisan-lapisan kawat duri yang dimulai dari sisi bawah menuju ke sisi atas tiang.
Penyakit
Beberapa jenis penyakit yang banyak di temukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya.
1.      Penykit daun bibit muda (anthracnose)
Gejala
Terdapat bercak-bercak dikelilingi warna kuning yang merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang. Gejala lain yang tampak adalah adanya warna coklat dan hitam diantara tulang daun. Daun-daun yang terserang menjadi kering dan akhirnya mengalami kematian.
Penyebab
Jamur Melanconium elaidis, Glomerella singulata dan Botryodiplodia palmarum.
Pengendalian dan pemberantasan
Pengendalian dengan megurangi naungan bibit sesuai dengan perkembangan umur tanaman. Serangan yang bersifat sporadis, dapat dilakukan tindakan pemangkasan ringan pada tajuk bibit yang terinfeksi. Jika mengalami serangan berat sebaiknya bibit dimusnahkan. Pemberantasan secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP yang berbahan aktif mancozeb 80% dengan konsentrasi 0,2% atau dengan Captan dengan konsentrasi 0,2%.
2.      Penyakit akar (blast disaese)
Gejala
Akar menjadi lunak dan jika dibelah akan terlihat jaringan antara berkas pembuluh pusat dan hipodermis hancur. Daun bibit menjadi kusam berwarna kekuning-kuningan yang dmulai dari bagian ujung daun, daun menjadi layu, dan akan berubah warna menjadi kuning cerah dan timbul bercak-bercak.
Penyebab
Jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytum sp.
Pengendalian dan pemberantasan
Media atau tanah untuk pembibitan, pemupkan, pemeliharaan menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya penyakit akar pada tanaman. Jika tanaman terserang penyakit ini, dapat diberantas dengan menggunakan fungisida yang berbahan aktif bedomil 20% seperti fungisida Belante T 20/20 WP dengan konsentrasi 20 mg/liter air. Fungisida di terbarkan pada media tanam. Dapat pula menggunkan kapur pertania.
2.3.4 Penanaman
Sasaran penanaman adalah agar proses tanam berjalan lancer, jumlah tegakan sesuai dengan rencana, waktu tanam yang tepat, dan biaya tanam yang rasional.
Ø Ajir (Tiang Pancang)
Arah pemancangan ajir diatur dari utara ke selatan dan tegak lurus terhadap jalan sekunder atau jalan produksi. Jarak tanaman 9,08 x 9,08 meter merupakan jarak tanam segitiga sama sisi, artinya jarak tanam antarbarisan 7,86 meter. Pengajiran harus lurus, berdiri tegak, dan bermata lima (empat titik sudut bujur sangkar dan satu titik di tengahnya.
Tabel 4. Kerapatan tanaman di areal datar
Kerapatan Tanaman
(pohon/hectare)
Jarak Tanaman Antarpohon
(segitiga sama sisi)
(Meter)
Jarak Tegak Lurus Antarbaris
(meter)
128
9,50
8,23
130
9,40
8,14
136
9,20
7,97
143
9,00
7,79
148
8,80
7,62
160
8,50
7,36
Ø Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan dengan menggali tanah di tempat ajir terpasang. Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm. biarlah lubang tanaman terbuka selama dua minggu. Sebelum ditanam, lubang diberi pupuk menggunakan Rock Phosphate 0,5 kg/lubang atau campuran Agrophos sebanyak 1 kg dan patenkali 0,25 kg.
Ø Penanaman
Bibit yang ditanam dilapangan sebaiknya telah berumur 12 – 14 bulan. Bibit harus diseleksi di pembibitan (main nursery) terlebih dahulu. Sebelum diangkut kelapangan, bibit disemprot dengan pestisida dengan konsentrasi 0,1%. Kedalaman lubang tanaman  diatur agar sama dengan tinggi polybag ditambah 5 cm. Misalnya, juka tinggi polybag 45 cm, kedalaman lubang tanam menjadi 50 cm.
Ø Penutup Tanah (kacangan)
Tanaman penutup tanah atau land cover crop (LCC) yang umumnya digunakan di antaranya Pueraria javanica (PJ), Centrosema pubescens (CP), Calopogonium mucunoides (CM), Calopogonium caeruleum (CC), Mucuna cochinchinensisc (MC), dan Pueraria phaseoloides (PP).
2.3.5 Pemeliharaan Tanaman Periode TBM (Tanaman Belum Menghasilkan)
A.    Penyulaman
Penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali tanaman yang mati. Tujuan menyulam untuk mempertahankan kerapatan (populasi) pohon sesuai standar. Jumlah pohon yang akan disulam di setiap areal pada tahun pertama, kedua dan ketiga dapat diketahui dengan mudah berdasarkan hasil sensus pohon setiap tahun. Penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman kelapa sawit yang tergolong jelek dan lolos dari seleksi di main nursery dengan tanaman yang baru dari pembibitan yang sudah disiapkan sebelumnya.

B.     Penyiangan
Tujuang penyiangan adalah untuk memperoleh pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang baik dan meningkatkan daya tahan tanaman penutup tanah (LCC). Namun, daerah di sekitar pohon kelapa sawit tidak perlu ditanami tanaman penutup tanah. Daerah tersebut biasanya dinamanakan piringan. Luasnya diatur perdasarkan umur tanaman. Tanaman yang berumur satu tahun, jari-jari piringannya 100 cm. sementara itu, tanaman berumur 1 – 3 tahun, jari-jari piringannya 150 cm. Untuk tanaman berumur lebih dari 3 tahun, jari-jari piringannya sebesar 250 cm.
Menurut Yan Fauzi dkk (2002), pembrantasan gulma atau tanaman liar dalam arti sempit disebut penyiangan. Gulma yang tumbuh di sekitar bibit atau tanaman kelapa sawit perlu di berantas sebab dapat merugikan tanaman pokok, bahkan menurunkan produksi. Gulma menjadi tanaman pokok berkompetisi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya maupun CO2. Selain itu, gulma dapat berperan sebagai tanaman inang bagi hama dan penyakit, beberapa gulma pada tanaman kelapa sawit adalah Imperata cylindrica (alang-alang), Axonopus compressus (rumput pahit), Passpalum conjugatum (paitan), Cyperus rotundus (teki-tekian), Mikania micrantha (mikania), Eupatorium odoratum (putihan), Ageratum conyzoides (babadotan), Ageratum latifolia (wedusan), Gleichenia linearis (pakis kawat), Mimosa invisa (kucingan), Amaranthus spinosus (bayam duri).
C.     Hama dan Penyakit
Hama
Menurut Yan Fauzi dkk (2002), Beberapa jenis hama yang banya ditemukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya:
1.      Kumbang Malam
Gejala
Helaian daun berlubang-lubang. Di atas daun sering ditemukan kotoran-kotoran kumbang. Daun yang terserang akan tampak mengering dan secara umum pertumbuhan tanaman lebih kurus dan merana.
Penyebab
Adoratus sp. dan Apogonia sp. Kumbang tersebut menyerang tanaman pembibitan dan tanaman belum menghasilkan. Jenis Adoratus sp. Berwarna coklat dan terdapat bercak putih. Pada sayapnya terdapat bulu-bulu halus. Ukurannya dapat mencapai 1,5 cm. Untuk Apogonia sp. berwarna hitam atau coklat tua mengkilap dan tidak terdapat bulu halus pada sayapnya. Ukurannya mencapai 12 cm. Kumbang aktif memakan daun pada malam hari dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah.
Pengendalian dan pembrantasan
Pengendalian hama dengan melakukan sanitasi lingkungan di sekitar tanaman, seperti pembersihan gulma. Jika hama sudah tidak dapat dikendalikan, sebaiknya disemprot insektisida Dipterex 700 ULV yang berbahan aktif triklorfon 707 g/l atau Dipterex berbahan aktif triklorfon 95%. Dosis yang digunakan adalah 1 kg/ha. Pembrantasan secara biologis dengan menggunakan jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. Dapat juga dengan penyebaran predator seperti kumbang, lalat, semut, rayap, tokek, ulat, dan burung.
2.      Tikus
Gejala
Pada pembibiitan, tikus menyerang bagian pucuk daun. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM), memakan pelepah daun, sedangkna pada tanaman menghasilkan (TM) menyerang buah baik buah mentah maupun buah masak. Apabila menyerang titik tumbuh, dapat menyebabkan kematian. Dalam kondisi yag tidak terkendali, populasi tikus dapat mencapai 300 ekor/ha. Kondisi demikian dapat menurunkan produksi 5 – 15%.
Penyebab
Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp.). hama ini tergolong mamalia. Menyerang tanaman pada semua umur, mulai dari pembibita hingga tanaman menghasilka.
Pengendalian dan pemberantasan
Hama tikus pada umumnya sulit diberantas, karena daerah hidupnya sangat luas. Pemberantasan dapat dilakukan secara eposan pada sarangnya. Secara biologis dengan predatator kucing, ular, dan burung hantu (Tyto alba).



3.      Babi hutan
Gejala
Pada umumnya serangan hama babi hutan selalu menyebabkan kematian tanaman kelapa sawit muda. Hama ini akan membongkar dan mencabut umbut sawit hingga keluar dari dalam tanah. Umbut tersebut dimakan sampai habis, dan meninggalkan bekas berupa potongan pelepah daun tanaman. Dalam satu malam, untuk satu ekor babi hutan dapat menghabiskan puluhan batang tanaman kelapa sawit muda.
Penyebab
Babi hutan yang umumnya menyerang tanaman kelapa sawit hingga berumur sekitar 24 bulan adalah jenis Sus scrofa L. dan jenis Sus barbatus Muller. Untuk jenis yang pertama, warnanya hitam dan senang sekali hidup berkelompok. Dalam satu kelompok dapat mencapai sekitar 5 – 50 ekor. Babi ini sering ditemukan keluar mencari makan menjelang pagi hari (subuh) hingga pukul 07.00 dan pada sore hingga malam hari pukul 17.00 – 22.00. Di luar waktu tersebut, babi bersembunyi di semak-semak belukar atau rumpun alang-alang, baik itu yang berada di sekitar atau perbatasan kebun.
Untuk jenis yang kedua di sebut juga dengan babi janggut karena pada jantan tumbuh janggut di tengah-tengah moncongnya. Bentuk tubuhnya lebih besar dari jenis yang pertama dan berwarna abu-abu kemerahan. Dalam interval waktu tertentu, sangat suka mengembara atau berpindah-pindah tempat dalam satu kelompok yang cukup besar, sehingga sering menyebabkan terjadi serangan terhadap tanaman utama secara tiba-tiba serta pada areal yag cukup luas.
Pengendalian dan pemberantasan
Ada beberapa cara yang dilakukan, diantanranya:
Ø  Penanaman bibit tua
Cara ini banyak dilakukan pada perkebunan kelapa sawit yang mendapat serangan babi di atas ambang toleransi, yaitu dengan menanam bibit yang telah berumur 20 bulan karena lebih tahan terhadap serangan hama babi hutan. Namun, sebaiknya menanam bibit yang sudah mencapai umur 24 bulan. Pada umur tersebut, bibit benar-benar tahan terhadap serangan hama babi karena pada bagian pangkal batang, pelepah, dan durinya telah cukup keras dan banyak. Namun, cara ini dapat menghambat pertumbuhan dan masa produksi tanaman selama 6 bulan. Selain itu, biaya penanaman akan menjadi lebih mahal.
Ø  Pemasangan kawat duri atau kawat harmonika
Kawat duri atau kawat harmonika dipasang di sekeliling areal tanaman kelapa sawit yang baru ditanam. Perlindungan dengan cara ini berfungsi untuk melindungi seluruh tanaman dari serangan hama babi. Cara pengendalian seperti ini cukup efektif karena tingkat keberhasilan perlindungan terhadap tanaman dapat mencapai 100%. Sebelum kawat dipasang, siapkan tiang berdiameter 10 cm setinggi 1,85 m. Jarak antar tiang selebar 2 m. Selanjutnya, tiang-tiang tersebut ditancapkan sedalam 0,5 m dengan baik dan benar di sekeliling areal. Posisi tiang berada di seputar perbatasan antara lingkungan kebun dengan lingkungan di luar kebun. Setiap 5 batang tiang atau setiap jarak 10 m, dapat di pasang ting penyanggah. Selain itu, bentangkan dan pakukan lapisan-lapisan kawat duri yang dimulai dari sisi bawah menuju ke sisi atas tiang.
Penyakit
Beberapa jenis penyakit yang banyak di temukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya.
1.      Penykit daun bibit muda (anthracnose)
Gejala
Terdapat bercak-bercak dikelilingi warna kuning yang merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang. Gejala lain yang tampak adalah adanya warna coklat dan hitam diantara tulang daun. Daun-daun yang terserang menjadi kering dan akhirnya mengalami kematian.
Penyebab
Jamur Melanconium elaidis, Glomerella singulata dan Botryodiplodia palmarum.

Pengendalian dan pemberantasan
Pengendalian dengan megurangi naungan bibit sesuai dengan perkembangan umur tanaman. Serangan yang bersifat sporadis, dapat dilakukan tindakan pemangkasan ringan pada tajuk bibit yang terinfeksi. Jika mengalami serangan berat sebaiknya bibit dimusnahkan. Pemberantasan secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP yang berbahan aktif mancozeb 80% dengan konsentrasi 0,2% atau dengan Captan dengan konsentrasi 0,2%.
2.      Penyakit akar (blast disaese)
Gejala
Akar menjadi lunak dan jika dibelah akan terlihat jaringan antara berkas pembuluh pusat dan hipodermis hancur. Daun bibit menjadi kusam berwarna kekuning-kuningan yang dmulai dari bagian ujung daun, daun menjadi layu, dan akan berubah warna menjadi kuning cerah dan timbul bercak-bercak.
Penyebab
Jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytum sp.
Pengendalian dan pemberantasan
Media atau tanah untuk pembibitan, pemupkan, pemeliharaan menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya penyakit akar pada tanaman. Jika tanaman terserang penyakit ini, dapat diberantas dengan menggunakan fungisida yang berbahan aktif bedomil 20% seperti fungisida Belante T 20/20 WP dengan konsentrasi 20 mg/liter air. Fungisida di terbarkan pada media tanam. Dapat pula menggunkan kapur pertania.
3.      Penyakit busuk pangkalbatang (basal stem rot atau ganoderma)
Gejala
Pelepah daun tampak layu dan berwarna pucat, selanjutnya daun akan mengalami nekrosis yang dimulai dari bagian daun yang paling tua hingga menyebar ke bagian daun yang lebih muda. Selanjutnya pelepah daun akan patah dan menggantung. Daun tombak (pupu) yang baru muncul tidak membuka dan berkumpul lebih dari tiga helai. Dalam kondisi serangan yang berat, setelah 6 – 12 bulan muncul gejala pada daun, pangkal batang menghitam dan keluar getah pada bagian yang terinfeksi sehingga tanaman akan tumbang dan mati.
Penyebab
Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum. Jamur ini kan menular ke tanaman yang sehat jika akarnya bersinggungan dengan tunggul-tunggul pohon yang sakit.
Pengendalian dan pemberantasan
Sampai sekarang ini serangan penyakit tersebut belum mampu diatasi dengan menggunakan fungisida. Oleh karena itu, tindakan pencegahan sebaiknya diperhatikan dengan baik agar dapat terhindar dari penyakit ini. Sebelum penanaman, sumber infeksi di bersihkan terutama jika areal kelapa sawit merupakan lahan bekas kebun kelapa atau kelapa sawit. Tunggul-tunggul harus dibongkar dan dibakar. Tanaman yang terserang harus dibongkar dan di bakar. Di sekitar tanaman digali parit dan tanaman yang belum terserang dibumbun.
D.    Pemupukan
Menurut Sunarko (2009). Tujuan pemupukan adalah menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Pemupukan untuk menyuplai kebutuhan unsur hara yang tidak diperoleh dari tanah berdasarkan hasil analisis tanah dan analisis daun. Untuk menyupayakan efisiensi pemupukan perlu diterapkan empat tepat, yaitu tepat jenis, tepat waktu, tepat cara, an tepat jumlah (dosis).
Ø Waktu Pemupukan
1)   Pemupukan biasanya dilakukan sebanyak dua kali pertahun, yakni pada awal musim hujan (Oktober) dan akhir musim hujan (April).
2)   Pupuk Rock Phosphate (RP) tidak boleh diberikan bersama dengan pupuk lainnya. Waktu pemberian setiap pupuk biasanya tidak bersamaan.
3)   Pupuk ZA, MOP, dan Kieserite diberikan dalam waktu hahmpir bersamaan.
4)   Perbedaan waktu antara pemberian pupuk ZA dan Rock Phosphate (RP) sekitar satu bulan. Pupuk ZA sebaiknya diberikan setelah aplikasi pupuk RP.

Ø Cara Pemupukan
1)   Pemeberian pertama pupuk ZA (umur satu bulan) dilakukan dengan cara ditabur secara merata, dari pangkal pohon hingga 30 cm dari pangkal pohon.
2)   Pupuk ZA, Rock Phosphate (RP, MOP, dan kieserite diaplikasikan dengan cara ditabur secara merata di seluruh bagian, dari pangkal hingga tajuk terluar.
3)   Pupukk tunggal tidak boleh dicampur, melainkan ditebar secara berurutan (kecuali RP/TSP). jarak penempatan pupuk dari pohon untuk N, P, K, dan Mg masing-masing 40, 75, 125, dan 175 cm.
Ø Dosis Pemupukan
Dosis pemupukan adalah jumlah pupuk yang diberikan per satuan luas per tahun dalam satuan kilogram.
1)   Tahap I (TBM I)   : Urea 1,35, RP 1,75, MOP 1,00, Kies 0,7
2)   Tahap II (TBM II)            : Urea 1,50, RP 1,00, MOP 1,75, Kies 1,5
3)   Tahap III (TBM III)         : Urea 1,50, RP 1,00, MOP 1,75, Kies 1,5
4)   Masing-masing tahap diberikan berdasarkan umur tanaman kelapas awit. Tahap I pada umur satu tahun, tahap II pada umur dua tahun, dan taham III pada umur tiga tahun.
Table 5. pedoman pemupukan kelapa sawit TBM (143 pohon/hectare)
Umur (bulan)
Pupuk
Gram/Pohon
Kg/Hektare
16
N
270
39
P
375
54
K
75
11
Mg
115
16


935
120
20
N
285
41
P
400
57
K
285
41
Mg
75
11


1.045
150
24
N
355
51
P
500
72
K
355
51
Mg
95
14


1.305
188
27
N
535
77
P
750
107
K
150
22
Mg
230
33


1.665
239
30
N
430
62
P
600
86
K
425
61
Mg
115
16


1.570
225
Keterangan:
TBM       : Tanaman Belum Menghasilkan
N            : Nitrogen (misalnya pupuk ZA, Urea)
P             : Fosfor (misalnya pupuk RP, TSP, SP 36)
K            : Kalium (miisalnya pupuk ZK, MOP,/KCL)
Mg          : Magnesium (misalnya pupuk Kieserite)
E.  Penunasan dan Kastrasi
Penunasan merupakan kegiatan membuang daun tua kelapa sawit yang tidak bermanfaat, khususnya daun kelapa sawit mulai tidak hijau lagi. Penunasan dibedakan menjadi tiga jenis, yaknik penunasan pendahuluan (6 bulan sebelum TM), penunasan periodic (saat TM), dan penunasan panen (saat panen).
Kastrasi attau ablasi merupakan kegiatan membuang bunga muda yang tumbuh ketiak daun, baik bunga jantan maupun bunga betina. Kegiatan ini dilakukan tanpa melukai batang dan pangkal pelepah daun. Kastrasi dimulai dari bulan ke-14 sesudah penanaman (25% dari tanaman telah berbunga) dan dilaksanakan setiap bulan. Pembuangan bunga jantan dikerjakan hingga tanaman berumur 28 bulan, sedangkan bunga betina hingga berumur 30 bulan.
2.3.6 Pemeliharaan Tanaman Periode TM (Tanaman Menghasilkan)
Menurut Sunarko (2009). Tanaman menghasilkan merupakan tanaman kelapa sawit dengan kondisi lebih dari 25% sudah mulai menghasilkan TBS dengan berat lebih dari 3 kg. Sasaran pemeliharaan TM di antaranya memacu pertumbuhan dan dan buah yang seimbang, mempertahankan buah agar mencapai kematangan yang maksimal, dan menjaga kesehatan tanaman kelapa sawit.
A. Penyiangan
Penyiangan merupakan kegiatan untuk menekan pertumbuhan gulma agar tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dan kimiawi. Gulma yang terdapat pada TM kelapa sawit hampir sama dengan pada TBM.
Selain itu, penyiangan dapat dilakuakan dengan weeding, baik manual (digaruk/dicabut) maupun kimiawi (herbisida). Lokasi weeding dilaksanakan di gawangan, jalan pikul buah, dan  piringan (bokoran).
B.  Penunasan dan Sanitasi
Penunasan merupakan kegiatan membuang pelepah tua dan kering. Tujuannya menunas sebagai berikut:
1)   Membantu memudahkan pelaksanaasn panen.
2)   Membantu penilaian kematanagn buah.
3)   Mengurangi penghalang pembesaran tandan.
4)   Mengurangi kehilangan brondolan buah yang terjepit di pelepah daun.
5)   Mengurangi kelembapan dan pertumbuhan epifit.
Berdasarkan umur tanaman, penunasan dibedakan menjadi tiga jenis.
1)   Penunasan pendahuluan (sanitasi), dilakukan enam bulan sebelum tanaman menjadi TM.
2)   Penunasan periodic, dilaksanakan setelah tanaman menjadi TM dengan rotasai yang ditentukan sesuai kondisi lapangan (biasanya enam bulan sekali).
3)   Penunasan panen, dilakukan bersama dengan panen. Biasanya tandan dipotong, daun yang perlu dituna adalah 1 – 2 daun samping dari penyanggah.
Berikut ini perbandingan jumlah pelepah berdasarkan ketentuan yang disesuaikan dengan umur tanamanan.
1)   Tanaman umur 3 – 5 tahun, jumlah pelepah minimum 48 – 56 pelepah.
2)   Tanaman umur 5 – 10 tahun, jumlah pelepah minimum 46 – 48 pelepah.
3)   Tanaman umur lebih dari 10 tahun, jumlah pelepah minimum 40 pelepah.
C.  Penyerbukan (Polinasi)
Tanaman kelapa sawit yang di kastrasi cenderung akan membentuk kembali bunga betina lebih banyak dibandingkan dengan bunga jantan selama beberapa tahun. Selama periode tersebut, terjadi kekurangan bunga jantan (tepung sari) dan penyerbukan alami oleh angina dan serangga semakin terbatas. Karena itu, perlu didatangkan  tepung sari. Proses penyerbukan tepung sari ke bunga betina yang sedang anthesis (matang dan siap diserbuki) disebut polinasi bantuan atau penyerbukan bantuan (assisted pollination). Namun, saat ini serangga penyerbuk kelapa sawit (SPKS) seperti elaeidobius kamerunicus  telah banyak dimanfaatkan untuk membantu penyerbukan (assisted pollination).
D. Pemupukan
Salah satu factor pemeliharaan yang paling penting adalah pupuk dan pemupukan. Untuk menentukan dosis pupuk, perlu dilakukan observasi lapangan. Dosis pemupukan ditentukan oleh analisis daun.
Table 6. pedoman pemupukan kelapa sawit TM ( 143 pohon/hectare)
Umur (tahun)
Pupuk
Gram/Pohon
Kg/Hektare
3
N
350
54
P
500
72
K
1.000
143
Mg
500
72
Bo
25
3,6


1.405
344,6
4 – 6
N
750
107
P
1.000
143
K
2.000
281
Mg
1.000
143
Bo
50
7,2


4.800
686,2
7 – 9
N
1.000
143
P
1.000
143
K
2.500
358
Mg
1.000
143
Bo
50
7,2


5.550
794,2
10 – 14
N
1.250
179
P
1.000
143
K
3.000
429
Mg
1.000
143
Bo
50
7,2


6.300
901,2
15 – 18
N
1.000
143
P
100
143
K
2.000
286
Mg
1.000
143
Bo
50
7,2


5.050
722,2
19 – 22
N
1.000
107
P
1.000
143
K
1.500
281
Mg
7.50
143


4.250
608
Keterangan:
TM   : Tanaman Menghasilkan
N      : Nitrogen (misalnya pupuk ZA, Urea)
P       : Fosfor (misalnya pupuk RP, TSP, SP 36)
K      : Kalium (miisalnya pupuk ZK, MOP,/KCL)
Mg    : Magnesium (misalnya pupuk Kieserite)
Bo    : Boron (misalnya pupuk HGF Borate)
Menurut Yan Fauzi dkk (2002), pemberian pupuk pada tanaman harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi kunci keefektifan pemberian pupuk, diantaranya daya serap akar tanaman, cara pemberian dan penempatan pupuk, waktu pemberian, serta jenis dan dosis pupuk.

E.     Hama dan Penyakit
Hama
Menurut Yan Fauzi dkk (2002), Beberapa jenis hama yang banya ditemukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya:
1.      Nematoda
Gejala
Daun-daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak. Selanjutnya daun berubah warna menjadi kuning dan mengering. Terjadi pembusukan pada tandan bunga dan tidak membuka, sehingga tidak menghasilkan buah.
Penyebab
Nematoda rhadinaphelenchus cocophilus. Hama ini menyerang akar tanaman kelapa sawit.
Pengendalian dan pemberantasan
Untuk memberantas sumber infeksi, pohon yang terserang diracun dengan natrium arsenit. Tanaman yang sudah mati dan kering dibongkar kemudian dibakar.
2.      Ulat Api
Gejala
Helaian daun berlubang atau habis sama sekali sehingga hanya tinggal tulang-tulang daun. Gejala ini dimulai dari daun bagian bawah. Dalam kondisi yang parah tanaman akan kehilangan daun sekitar 90%. Pada tahun pertama setelah serangan dapat menurunkan produksi sekitar 69% dan sekitar 27% pada tahun kedua.
Penyebab
Setora nitens, Darna trima, dan Ploneta diducta merupakan hama pemakan daun. Larva berupa ulat berwarna hijau dan pada punggungnya terdapat garis putih memanjang dari kepala sampai ujung badan. Ulat ini berukuran panajang 20 – 25 mm. Punggungnya berbulu kasar kaku dan beracun. Bulu kasar tersebut mengeluarkan cairan dan jika terkena tanagn terasa gatal dan panas.
Pengendalian dan pembratasan
Pada serangan ringan pemberantasan dilakukan secara manual, yaitu mengambil ulat-ulat dari daun dan memusnakannya. Pemberantasan secara khemis dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85% dan klorpirifos 200 g/l. Beberapa contoh insektisida tersebut adalah Hostation 25 ULV, 0,2 -0,3%. Pengendalian secara biologis, yaitu dengan penyebaran virus B. Nudaurelia.
3.      Ulat Kantong
Gejala
Daun tidak utuh lagi, rusak dan berlubang. Kerusakan helaian daun dimulai dari lapisan epidermisnya. Kerusakan lebih lanjut adalah mengeringnya daun yang menyebabkan tajuk agian bawah berwarna abu-abu dan hanya daun muda yang masih berwarna hijau. Kerusakan akibat hama ini dapat menimbulkan penyusutan produksi sampai 40%.
Penyebab
Ada tiga yaitu Metisa plana, Mahasena corbeti, dan Crematosphisa pendul. Penyebaran hama ini sangat cepat, karena sifatnya yang mudah berpindah dari satu daun ke daun lain atau dari satu pohon ke pohon lain. Pada setiap perpindahan, ulat betina akan membentuk kantong-kantong. Setelah terbungkus kantong, ulat hanya bergerak dan memakan daun dengan cara mengeluarkan kepala dan tungkai depannya.
Pengendalian dan pembrantasan
Pemberantasan secara kimia dapat dilakukan dengan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif endosulfan 330,9 g/l yaitu Thiodan 35 EC dengan dosis 0,8 kg/ha atau dengan bahan aktif triklorfon 95% (Dipterex 95 SP) dengan dosis 1 kg/ha. Pemberatasan secara biologis dengan menyebarkan predator dan parasit. Predator larva adalah Sycanus dichotomo dan beberapa jenis parasit yang sering menyerang larva adalah Callimerus aracuver, Brachymeria sp., Apenteles sp., Fislistina sp., dan Caryphus inferus.
4.      Tikus
Gejala
Pada pembibiitan, tikus menyerang bagian pucuk daun. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM), memakan pelepah daun, sedangkna pada tanaman menghasilkan (TM) menyerang buah baik buah mentah maupun buah masak. Apabila menyerang titik tumbuh, dapat menyebabkan kematian. Dalam kondisi yag tidak terkendali, populasi tikus dapat mencapai 300 ekor/ha. Kondisi demikian dapat menurunkan produksi 5 – 15%.
Penyebab
Tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp.). hama ini tergolong mamalia. Menyerang tanaman pada semua umur, mulai dari pembibita hingga tanaman menghasilka.
Pengendalian dan pemberantasan
Hama tikus pada umumnya sulit diberantas, karena daerah hidupnya sangat luas. Pemberantasan dapat dilakukan secara eposan pada sarangnya. Secara biologis dengan predatator kucing, ular, dan burung hantu (Tyto alba).
Penyakit
Beberapa jenis penyakit yang banyak di temukan di areal perkebunan kelapa sawit serta cara pengendalian dan pemberantasannya.
1.      Penyakit akar (blast disaese)
Gejala
Akar menjadi lunak dan jika dibelah akan terlihat jaringan antara berkas pembuluh pusat dan hipodermis hancur. Daun bibit menjadi kusam berwarna kekuning-kuningan yang dmulai dari bagian ujung daun, daun menjadi layu, dan akan berubah warna menjadi kuning cerah dan timbul bercak-bercak.
Penyebab
Jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytum sp.
Pengendalian dan pemberantasan
Media atau tanah untuk pembibitan, pemupukkan, pemeliharaan menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya penyakit akar pada tanaman. Jika tanaman terserang penyakit ini, dapat diberantas dengan menggunakan fungisida yang berbahan aktif bedomil 20% seperti fungisida Belante T 20/20 WP dengan konsentrasi 20 mg/liter air. Fungisida di terbarkan pada media tanam. Dapat pula menggunkan kapur pertania.
2.      Penyakit busuk pangkalbatang (basal stem rot atau ganoderma)
Gejala
Pelepah daun tampak layu dan berwarna pucat, selanjutnya daun akan mengalami nekrosis yang dimulai dari bagian daun yang paling tua hinga menyebar ke bagian daun yang lebih muda. Selanjutnya pelepah daun akan patah dan menggantung. Daun tombak (pupu) yang baru muncul tidak membuka dan berkumpul lebih dari tiga helai. Dalam kondisi serangan yang berat, setelah 6 – 12 bulan muncul gejala pada saun, pangkal batang menghitam dan keluar getah pada bagian yang terinfeksi sehingga tanaman akan tumbang dan mati.
Penyebab
Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum. Jamur ini kan menular ke tanaman yang sehat jika akarnya bersinggungan dengan tunggul-tunggul pohon yang sakit.
Pengendalian dan pemberantasan
Sampai sekarang ini serangan penyakit tersebut belum mampu diatasi dengan menggunakan fungisida. Oleh karena itu, tindakan pencegahan sebaiknya diperhatikan dengan baik agar dapat terhindar dari penyakit ini. Sebelum penanaman, sumber infeksi di bersihkan terutama jika areal kelapa sawit merupakan lahan bekas kebun kelapa atau kelapa sawit. Tunggul-tunggul harus dibongkar dan dibakar. Tanaman yang terserang harus dibongkar dan di bakar. Di sekitar tanaman digali parit dan tanaman yang belum terserang dibumbun.
2.4 Panen
Menurut Sunarko (2009). Panen merupakan salah satu factor penting yang menentukan kualitas dan kuantitas produksi. Tanaman kelapa sawit umumnya sudah mulai dipanen pada umur tiga tahun di kebun. Pekerjaan panen meliputi pemotongan tandan buah masak, pengutipan brondolan, dan pengangkutan ke TPH.
Kelapa sawit dianggap mulai dapat berproduksi dengan baik pada tahun ketiga atau keempat setelah ditanam di kebun. Sementara itu, buah kelapa sawit biasanya sudah dianggap matang sekitar enam bulan setelah penyerbukan.
Tingkat kematanagn buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna. Buah kelaps awit yang masih mentah berwarna hiaju, karena pengaruh pigmen klorofil. Selanjutnya, buah akan berubah menjadi merah atau oranye akibat pengaruh pigmen beta karoten. Kondisi tersebut menandakan minyak sawit yang terkandung dalam daging buah telah masimal dan buah sawit akan lepas dari tangkai tandannya (membrondol).
Table 7. Fraksi buah berdasarkan tingkat kematanagan
Jenis Fraksi Buah
Kemtangan Tandan Buah Segar (TBS)
Fraksi 00
Buah sawit sangat mentah, brondolan 0%
Fraksi 0
Buah sawit mentah, brondolan 1 sampai 12,5%
Fraksi 1
Buah sawit kurang matang, brondolan 12,5 sampai 25 %
Fraksi 2
Buah sawit matang I, brondolan 25 sampai 50%
Fraksi 3
Buah sawit matang II, brondolan 50 samapai 75%
Fraksi 4
Buah sawit lewat matang I, brondolan 75 sampai 100%
Fraksi 5
Buah sawit lewat matang II, buah sawit bagian dalam ikut membrondol
Fraksi 6
Tandan kosong, semua membrondol
Berikut ini tahapan pemanenan kelap sawit:
1)   Sediakan peralatan panen dalam jumlah yang cukup dan kondisi tajam.
2)   Pemanenan masuk ke areal panen melalui jalan buah. Pilih tandan buah yang matang peanen.
3)   Potong daun penyangga buah. Untuk pohon yang jumlah pelepahnya kurang dari standar, daun penyangga tidak perlu dipotong (tahun ke-6, standar minimum 56 helai, tahun ke-7 dan seterusnya minimum 48 helai).
4)   Potong pelepah yang terdekat dengan batang.
5)   Susun rapi pelepah daun bekas potongan di gawangan dan potong minimum tiga bagian.
6)   Ambil brondolan di ketiak pelapah dan kumpulkan bersama brondolan yang jatuh di tanah.
7)   Rontokan tandan buah yang terlalu matang sebagai brondolan.
8)   Bersihkan pohon yang sudah dipanen dari bekas bunga kering dan buah gugur. Tidak boleh ada buah mentah yang dipanen dan buah matang yang terlewat tidak dipanen.
9)   Kumpulkan dan bawa buah sawit ke TPH dengan kondisi bersih.
10)  Potong di ganggangf tandan denagn posisi mepet (sangat dekat), hasil potongan membentuk huruf V.

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan magang kerja ini dilaksanakan di PT Mega Nusa Inti Sawit-Perkebunan Indaragiri, Desa Kuala Gading. Magang kerja ini dilakukan selama 3 bulan yang dimulai 08 Agustus hingga  29 Oktober 2011.

3.2 Metode Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan dalam magang kerja adalah sebagai berikut:
1.   Mengikuti kegiatan di Perkebunan Indragiri yaitu monitoring perawatan tanaman kelapa sawit, monitoring panen, perawatan jalan akses transportasi.
2.   Diskusi dan wawancara dengan pembimbing lapang yang telah di tunjuk, Asisten-Asisten Perkebunan kelapa sawit dan juga petani kelapa sawit yang turut mendukung magang kerja ini.
3.   Mengumpulkan data sekunder sebagai data pelengkap dalam rangka pembuatan laporan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1 Keadaan Umum Lokasi Maggang Kerja
Perkebuna Indragiri berlokasi pada Desa Kuala Gading Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Perkebunan Indragiri mempunyai 7 divisi dengan total luas 6.975 Ha. Setiap divisi dikontrol oleh satu Asisten dan dua mandor, di setiap divisi terdapat satu KUD pemitra sebagai penghubung antara pihak petani plasma dan juga pihak perusahaan, KUD tersebut beranggotakan petani plasma.
DIVISI
KUD
LUAS AREAL
1
KUA
1.062 Ha
2
KSK
768 Ha
3
KRM
1.320 Ha
4
KMB
1.416 Ha
5
KKB
1.289 Ha
6
KTH
537 Ha
7
KHM
583 Ha

4.1.2 Struktur Organisasi Indragiri Estate
Sistem struktur organisasi yang digunakan di Indragiri Estate adalah Sruktural dan Fungsional. Karena memiliki keluwesaan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Sehingga baik staf dan karyawan dapat dengan mudah melaksanakan pekerjaannya dengan nyaman.

 












4.1.3 Kemitraan Estate Indragiri
Kemitraan yang dilakukan pada perkebunan Indragiri pola KKPA (Kredit Koperasi Primer kepada Anggota) merupakan pola kemitraan perusahaan inti dan petani dalam wadah koperasi untuk meningkatkan daya guna lahan petani peserta dalam usaha meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan para anggota melalui kredit jangka panjang dari bank. Perusahaan inti sebagai pengembang melaksanakan pembangunan kebun kelapa sawit untuk petani peserta dengan biaya pembangunan dari kredit bank hingga tanaman kelapa sawit menghasilkan. Perusahaan inti juga membangun kelembagaan petani sebagai wadah pembinaan dan bimbingan petani peserta mengenai budadaya dan menejemen perkebunan kelapa sawit. Pembinaan minimum dilakukan selama satu siklus tanam.
Perkebuana  Indragiri mempunyai 7 divisi atau KUD (Koprasi Unit Desa) pemitra antara lain KUA (KUD Anggrek), KSK (KUD Setia Kawan), KRM (KUD Rahayu Makmur), KMB (KUD Milik Bersama), KKB (KUD Karya Bersama), KTH (KUD Tunas Harapan), dan KHM (KUD Harapan Maju). Untuk penanaman kelapa sawit pada perkebunan Indragiri 3 tahap yaitu tahap 1 tahun tanam 1997, tahap 2 tahun tanam 1998 dan tahap 3 tahun tanam 2000.
4.1.4 Kegiatan Magang Kerja
1.   Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) Kelapa Sawit Plasma
Pemeliharaan tanaman kelapa sawit dilakukan oleh petani pemilik kavling atau dipekerjakan oleh orang lain dengan upah sesuai dengan pekerjaannya, pemeliharaan itu sendiri menyangkut beberapa aspek:
A.    Perawatan Gawangan
Perawatan gawangan adalah membersihkan gulma-gulma yang tumbuh pada gawangan kelapa sawit baik anak kayu maupun lalang. Namun perawatan gawangan hanya pada beberapa gulma yang kehadirannya tidak di kehendaki seperti Scleria Sumantrensis (ruput kerisan), Melastoma Malabathticum (sengganen/senduduk), Mikania Mikrantha (rayutan), Imperata Cylindrica (lalang), Cyperus Rotundus (rumput teki), Clidemia Herta (bulu babi), Mimosa Pudica (putri malu), Ageratum Conyzoides (bandotan), Borreria Latifolia (kentangan), Lantana Camara (lantana/tembelekan), Pennisentum Polystachyon (ekor tupai).
B.     Perawatan Piringan dan Pasar Pikul
Perawatan piringan dan pasar pikul dilakukan dengan penyemprotan, pengerjaan perawatan piringan dan pasar pikul dilakuakan oleh petani yang mempunyai kavling tersebut atau dipekerjakan oleh orang lain dengan upah sesuai dengan semak atau tidaknya piringan dan pasar pikul.

C.    Perawatan Tunas Pokok
Penunasan atau biasanya petani menyebutnya pruning adalah membuang pelepah yang kelapa sawit yang sudah tidak berfungsi lagi bagi tanaman kelapa sawit tersebut agar pemanenan buah kelapa sawit lebih mudah, brodolan dari buah sawit tidak terjepit pada ketiak pelepah dan juga mengurangi unsur hara yang dibutuhkan untuk memproduksi buah.
D.    Perawatan Jalan
Perawatan jalan merupakan bagian penting dalam perkebunan kelapa sawit, karena perawatan jalan untuk mempermudah dalam pengangkutan TBS dari dalam kebun untuk dibawa ke PKS.
E.     Pemupukan
Pemupukan merupakan bagian yang tidak tertinggalkan dalam budidaya tanaman kelapa sawit karena pemupukan untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Pemupukan sendiri dilakukan 2x dalam satu tahun.
F.     Hama dan Penyakit
Terdapat banyak hama dan penyakit tanaman kelapa sawit namun hanya beberapa saja yang menyerang tanaman kelapa sawit pada perkebunan Indragiri yaitu tikus  dan UPDKS. Oleh karena itu perlu adanya dilakukan sensus sehingga hama dan penyakit tanaman kelapa sawit sudah terdeteksi sebelum terjadi peledakan, sensus iyang sering dilakukan di perkebunan Indragiri adalah sensus UPDKS dan sensus tikus.
2.   Panen
Panen dilakukan jika tandan buah kelapa sawit telah memenuhi syarat untuk di panen, tandan buah yang telah dipanen diletakkan teratur di piringan dan brondolan dikumpulkan terpisah dari tandan. Kemudian tandan buah atau TBS (tandan buah segar) dan brondolan tersebut dikumpulkan di tempat pengumpulan hasil (TPH), setelah melakukan pemanenan dan buah sudah terkumpul baru dilakuakan grading pada TPH. Yang melakukan grading tersebut adalah mandor grading.
3.   Pengangkutan/Transportasi
Pengangkutan/transportas merupakan kegiatan membawa TBS dari dalam kebun dengan menggunakan alat transportasi eberupa truk untuk dibawa ke PKS, dalam 1 truk dapat mengangkut 8 – 10 ton/truk.
4.   Pengolahan
Grading TBS
Grading TBS merupakan kegiatan menggolongkan buah berdasarkan tingkat kematangan sesuai standar yang telah ditentukan perusahaan. Grading TBS ini dilakukan di PKS (Pabrik Kelapa Sawit).
4.1.5 Data Hasil Pengamatan
1.   Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) Kelapa Sawit Plasma
A.    Perawatan Gawangan
Pengamatan tentang perawatan gawangan yang dilaksanakan di perkebunan Indragiri bawasannya ada beberapa gulma yang di musnahkan dan ada juga gulma yang di biarkan hidup sebagai tempat musuh alami atau pun sebagai penutup tanah. Beberapa gulma yang kehadirannya tidak di kehendaki seperti scleria sumantrensis (ruput kerisan), melastoma malabathticum (sengganen/senduduk), mikania mikrantha (rayutan), imperata cylindrica (lalang), cyperus rotundus (rumput teki), clidemia herta (bulu babi), mimosa pudica (putri malu), ageratum conyzoides (bandotan), borreria latifolia (kentangan), lantana camara (lantana/tembelekan), pennisentum polystachyon (ekor tupai).
Perawatan gawangan yang dilakukan petani ada 2:
v  Babat gawangan
Babat gawangan adalah membersihkan gawangan dengan cara di babat menggunakan parang atau pun sabit.
v  Semprot total
Semprot total adalah penyemprotan total yang dilakukan di gawangan dengan menggunkan bahan kimia agar semua gulma yang ada di gawangan mati semua baik gulma yang menguntungkan atau pun gulma yang merugikan.
Beberapa gulma diharapkan (A), gulma inang APH (I) dan gulma dibolehkan (B).
Nama Botani
Nama Umum
Kategori
Rumput-rumputan


Axonopus compressus
rumput karpet/paitan
A
Brachiara distacya
sukat kelanjang
B
Centotheca lappacea
rumput pagar
B
Commelina nudiflora
spiderwort biasa
B
Cytocuccum accrescens
rumput kretekan
A
Paspalum conjugatum
rumput paitan/kerbau
B



Gulma daun lebar


Ageratum conyzoides
babadotan, wedusan
B/I
Berreria latifolia
kentangan
B/I
Cleone rutidosperma
-
B/I
Dianella nemerosa
-
B
Erecthites valerianiflora
Sintrong
A/I
Elephanthopus tomentopus
tutup bumi
A/I
Euporbia heterophyla
patikmas
A/I
Euporbia hirta
petikan kerbau
A/I
Physallis minima
Bladder cherry
B
Turnera subulata
-
A/I
Urena lobata
-
A/I



Kacangan


Clitoria laurifolia
-
B
Crostalaria spp
orok-orok
B
Casia tora
-
A/I



Semak


Clerodendrum serratum
Green Witch Tongue
B



Pakis


Diplazium asperum
pakis sayur
A/I
Diplazium esculentum
pakis sayur
A/I
Nephrolepis bisserata
pakis merambat
A
B.     Perawatan Piringan dan Pasar Pikul
Pembersihan piringan dilakukan sampai 30 cm di luar batas kanopi daun atau sampai makksimum 180 cm dari pangkal pohon kelapa sawit. Sedangakan pasar pikul dibersihkan lebar ± 1,2 m dilakukan setelah tanaman berumur > 6 bulan.
Pembersihan piringan dan pasar pikul dengan menggunakan alat semprot jenis gendong (kap). Sebelum melakukan aplikasi dilakukan kalibrasi alat semprot dan penghitungan volume semprot per ha:

L : F x 10.000
V x a
Keterangan:
L : Kebutuhan larutan dalam 1 hektar (liter per ha).
F : Flowrate, merupakan jumlah larutan yang keluar melalui nozel setiap satu menit dengan tekanan tertentu, biasanya 1 bar.
V : Kecepatan berjalan (meter per menit) penyemprot dengan membawa alat semprot.
a  : Lebar semprot (m).
C.    Perawatan Tunas Pokok
Pada waktu penunasan pelapah yang mati dan hamper mati serta pelapah yang tidak lagi memiliki daun harus dipotong. Ketentuan dalam penunasan:
Ø  Pelapah dipotong serapat mungkin ke pohon ± 15 cm agar brondolan tidak menyangkut.
Ø  Jumlah pelapah yang di pertahankan: mulai panen sampai ketinggian pohon 90 cm dari buah matang terendah pemanen tidak dibenarkan memotong pelepah sewaktu memanen. Sesudah rata-rata mencapai ketinggian ini harus segera dilakukan penunasan dengan system songgo 2 (dua) dan seterusnya hingga pohon mencapai umur 10 tahun.
Ø  Apabila tidak terdapat tandan yang matangatau kondisi pohon hanya mempunyai bunga jantan untuk sementara, maka penunasan harus tetap mempertahankan jumlah pelepah sesuai dengan umur tanaman.
Ø  Pelepah hasil tunasan disusun L – Shape.
Gambar . Susunan pelepah bentuk L – Shape
D.    Perawatan Jalan
Sistem perawatan jalan yang dilaksanakan di Perkebunan Indragiri dilakukan setiap semester pada jalan akses, sedangkan untuk jalan KUD dan KT dilakuakan oleh masing-masing KUD maupun KT bukan lagi tanggung jawab pihak perusahaan.
E.     Pemupukan
Pupuk yang digunakan untuk pemupukan di kebun Indragiri plasma sesuai dengan anjuran perusahaan. Pupuk yang digunakan adalah Urea 1 kg/pokok, TSP 1 kg/pokok, MOP 1 kg/pokok, Dolomit 0,51 kg/pokok, Borat 50 kg/pokok, dan kieserite 1 kg/pokok.
F.     Hama dan Penyakit
Ø UPDKS
UPDKS yang ada di perkebunan Indragiri adalah ulat api (Thosea Asigna dan Setora Nitens). Perkebunan Indragiri mempunyai jadwal dalam monitoring dan pengendalian ulat api dengan beberapa tahap yaitu deteksi, sensus dan pengendalian.
Ø Hama Tikus
Tikus yang menyerang tanaman kelapa sawit ada dua jenis yaitu:
Rattus Argentiventer (tikus sawah)
a.  Ekor lebih pendek dari panjang kepala dan badan.
b.   Tonjolan pada telapak kaki lebih kecil dan halus.
Rattus Tiomanicus (tikus pohon)
a.  Ukuran ekor lebih panjang dari panjang kepala dan badan.
b.   Tonjolan pada telapak kaki relatif besar dan kasar.
Untuk pengendalian hama tikus, sebelum melakukan pengendalian dilakukan sensus tikus. Terdapat dua bentuk sensus tikus yaitu sensun dilakukan di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) dan sensus pohon.


Contoh sensus pada TPH KUD KKB:
KT
NO. KAV
JMLH JJG
TERSERANG TIKUS
TIDAK TERSERANG
KET
JJG
%
JJG
%
10
2590
39
5
12.8
34.0
87.2

10
2659
56
7
12.5
49.0
87.5

10
2660
29
1
3.4
28.0
96.6

10
2596
52
5
9.6
47.0
90.4

10
2582
30
0
0.0
30.0
100.0

10
2583
34
3
8.8
31.0
91.2

10
2668
50
4
8.0
46.0
92.0

10
2664
56
4
7.1
52.0
92.9

10
2662
59
1
1.7
58.0
98.3

10
2663
26
7
26.9
19.0
73.1

TOTAL
431
37
8.6
394.0
91.4


15
2895
34
2
5.9
32.0
94.1

15
2917
53
2
3.8
51.0
96.2

15
2936
49
2
4.1
47.0
95.9

15
2934
18
1
5.6
17.0
94.4

15
2932
42
3
7.1
39.0
92.9

15
2963
42
3
7.1
39.0
92.9

15
2938
22
4
18.2
18.0
81.8

15
2915
40
4
10.0
36.0
90.0

15
2897
46
2
4.3
44.0
95.7

TOTAL
346
23
6.6
323.0
93.4

Contoh sensus tikus pada pohon KUD KRM:
Blok/Luas: 1A/16 Ha
Phn Ke
Baris Ke
TOTAL
3
13
23
33
43
53
63
73
83
93
103
113
123
133
143
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

2
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

5
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-

6
-
-
+
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-

7
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

8
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

9
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

10
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

11
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

12
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

13
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-

14
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

15
-
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-

16
-

-
-
-

-
-
-
-
-
-
-
-
+

17
+


-
-

-
-
-
-
-
-
-
-
-

18
-


-
-

-
-
-
-
-
-
-
-
-

19




-

-
-
-

-
-
-
-
-

20






-

-

-
-
-
-
-

21










-

-
-
-

22










-

-
-
-

23













-
-

Ttl Ttk
18
15
16
18
19
15
20
19
20
18
22
20
22
23
23
288
Ttk Tsr
2
1
1
0
1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
1
9
% TSR
11.1
6.7
6.3
0.0
5.3
0.0
5.0
5.3
0.0
5.6
0.0
5.0
0.0
0.0
4.3
3.1
Rata-rata % serangan dalam blok

System pengendalian hama tikus yang ada di perkebunan Indragiri menggunan APH (Agen Pengendalian Hayati) burung hantu (Tyto Alba). Keberadaan Tyto Alba selalu di monitoring setiap bulan bersamaan dengan itu juga di monitoring gupon (sangkar Tyto Alba).
2.   Panen
Pemanenan dilkukan sesuai dengan rotasi yang telah ditetapkan oleh KUD dan diketahui oleh asisten divisi, pemanenan dilakukan 3 rotasi dalam satu bulan dengan jarak antar rotasi 10 hari. Setiap selasai panen dilakukan grading TPH yang dilakuakan oleh mandor panen, grading tersebut sebagai pembanding antara grading yang dilakukan di TPH dengan grading yang dilakukan di PKS.
3.   Pengangkutan/Transportasi
Pengangkutan atau transportasi yang diklasanakan di perkebuanan semuanya biaya di tanggung oleh pihak KUD.
4.   Pengolahan
Untuk pengolahan sendiri perkebunan Indragiri hanya sebat hingga grading di PKS, asisten divisi perkebunan Indragiri hanya sebagai pemantau jalannya grading agar berjalan dengan baik dan tidak ada yang dirugikan antara petani plasma dengan pihak PKS tempat pengolahan TBS milik petani plasma.
4.2 PEMBAHASAN
  1. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) Kelapa Sawit Plasma
A.    Perawatan Gawangan
Gawangan harus bebas dari gulma yang merugikan, namun di lapangan petani dalam perawatan gawangan membasmi semua gulma yang tumbuh baik gulma yang menguntungkan maupun gulma yang merugikan.
Perawatan gawangan yang dilakukan petani plasma ada dua cara:
v  Babat gawangan
Dalam babat gawangan, semua gulma yang ada di gawangan di babat menggunakan sabit atau parang baik itu gulma yang menguntungkan maupun gulma yang merugikan sehingga gawangan bersih dari gulma yang tumbuh.
v  Semprot total
Penyemprotan merupakan cara yang paling instan menurut petani dalam mengendalikan gulma yang ada di gawangan. Penyemprotan menggunakan bahan herbisida yang dibeli di toko pertanian, diantaranya Roundup, Ally, Gramoxon, dan masih banyak merk herbisida yang digunakan.
B.     Perawatan Piringan dan Pasar Pikul
Perawatan piringan dan pasar pikul yang dilaksanakan petani plasma pengerjaannya dengan cara penyemprotan. Tetapi masih banyak petani yang melakukan dengan semprot total seperti perawatan gawangan namun ada juga petani yang membiarkan saja piringan dan pasar pikul tumbuh gulma sehingga kelihatan semak sehingga mengakibatkan kesulitan petani itu sendiri dalam prosen pemanenan. Ada pula petani yang menunggu semak semua, setelah semak baru dilakukan perawatan dengan cara semprot total karena mereka menganggap dengan demikian biaya perawatan yang dikeluarkan akan lebih sedikit. Tetapi dengan keadaan semak tersebut dapat mengganggu produktifitas tanaman kelapa saawit, dengan semak tersebut maka gulma seperti anak kayu, lalang dan juga gulama yang lain akan rakus memakan unsur hara yang seharusnya tersedia untuk tanaman kelapa sawit.
C.    Perwatan Tunas Pokok
Dalam perawan tunas pokok atau petani lebih sering menyebutnya pruning dilakukan setelah kelihatan pelepah banyak di bawah buah terakhir, karena mempersulit dalam pemanenan maka petani melakukan pruning.
D.    Perawatan Jalan
Perawatan jalan memang hal yang sangat peting dilakukan agar proes pengangkutan TBS dapat berjalan lancar, perawatan jalan yang ada di Perkebunan Indragiri sangat teratur sehingga tidak ada kesulitan saat pengangkutan TBS, sehingga tidak ada TBS yang restan.
E.     Pemupukan
Sistem pemupukan dilakukan oleh petani plasma, untuk pupuknya pihak dari KUD membeli pupuk dari pihak perusahaan sehingga pupuknya kandungan dan merknya sama. Namun disini kendalanya adalah aplikasi pemupukan yang dilakukan oleh petani yang tidak sesuai, ada beberapa oknum petani plasma tidak membeikan pupuk sesuai dengan anjuran yang ada, jika mereka di beri jatah 6 karung pupuk maka ada beberapa petani hanya mengaplikasikan 5 karung dan yang satunya biasanya untuk di jual atau bisa di gunakan untuk pupuk tanaman kelapa sawit pekarangan, dan ada juga petani cara menaburkan pupuk tidak merata pada tanaman kelpa sawit.
Akibat dari semua ini menyebabkan produksi kelapa sawit yang menurun, sehingga tidak hanya perusahaan yang tidak bisa mencapai budgetnya namun juga biaya produksi petani yang tinggi tetapi penghasilan rendah.



F.     Hama dan Penyakit
Tanaman kelapa sawit di Perkebunan Indragiri telah mencapai > 10 tahun sehingga hama yang menyerang pada tanaman kelapa sawit yang ada di Perkebunan Indragiri hanya tikus (Rattus sp.) dan UPDKS. Sedangkan untuk penyakit hampir tidak ada, adapun hanya menyerang satu pohon kelapa sawit dari ribuan hektar dari luas kebun kelapa sawit. Penyakit yang pernah ditemui adalah Ganoderma sp., tetapi penyebarannya masih dapat di kendalikan.
Pengendalian hama yang dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan pengendalian hayati yang ramah lingkungan agar ekosistem yang ada tetap terjaga dan berkelanjutan. Untuk pengendalian hama tikus (Rattus sp.) dan UPDKS sebagai berikut:
Ø  Tikus (Rattus sp.)
Tikus yang menyerang pada Perkebunan Indragiri terdapat dua spesies yaitu Rattus argentiventer dan Rattus tiomanicus. Sistem pengendalian yang ada sudah menggunakan pengendalian hayati yaitu pemanfaatan Tyto alba, dan itu berhasil menekan perkembangbiakan tikus. Tyto alba yang digunakan sebagai agen hayati sistem kerjanya adalah dengan memasang gupon (kadang burung) pada areal kebun, setiap blok terdapat 1 – 2 gupon dan setiap gupon tedapat sepasang Tyto alba, jika telah bertelur dan menetas maka anaknya yang telah dewasa dipindahkan pada gupon yang masih kosong. Monitoring gupon dilakukan setiap 1 bulan sekali. Selain pemanfaatan agen hayati, setiap 3 bulan sekali dilakukan sensus tikus untuk melihat tingkat serangan dan juga melihat agen hayati dapat berfungsi dengan baik atau tidak.
Ø  UPDKS
UPDKS yang menyerang tanaman kelapa sawit yang ada di Perkebunan Indragiri adalah ulat api, spesies yang sering ada adalah Setora nitens dan Thosea asigna. Ulat api tersebut memakan daun pada daun muda, serangannya dapat menurunkan tingkat produksi hingga 50%. Pengendaliannya di awali dengan terdeteksi ada ulat api ataupun tanaman yang terserang ulat api, jika telah terdeteksi maka dilakukan sensus populasi serangan ulat api. Dengan sensus populasi maka diketahui sistem pengendalian yang akan dilakukan menggunakan agen hayati atau kimia.
Agen hayati:
Predator : Sycanus sp, Eocanthecona furcellata, Cantheconidea javana, Parasitoid Spinaria spinator, Chaetexorista javana, Chlorocryptus purpuratus, Apanteles sp.
Entomopatogen : bakteri (Bacillus thuringiensis), jamur (Cordiceps militaris/Beauveria bassiana), virus (β. Nudaurelia/Multiple Nucleopoly hedrovirus/ Nucleopoly hendrovirus/Granulosis virus.
Kimia: dilakukan foging pada areal yang terjadi peledakan ulat api, dan dilakukan pada saat malam hari.


  1. Panen
Pemanenan dilakukan setelah buah ada yang brondol, pemanenan menggunakan sistem rotasi. Rotasi yang ada di Perkebunan Indragiri plasma terdapat 3 rotasi panen dalam 1 bulan. Setelah buah turun dari pohon langsung diangkut ke TPH untuk di timbang lalu TBS dibawa ke pabrik oleh pihak KUD menggunakan truk. Namun kendala yang di alami adalah petani plasma memanen TBS yang masih mentah sehingga harganya lebih murah di pabrik. Namun kendala tersebut masih bisa di atasi oleh perusahaan engan dilakukan penyuluhan yang dilakuakan oleh asisten divisi. Selain pemanenan yang kurang tepat, curah hujan yang tinggi pun menjadi kendala karena akan mempengaruhi kondisi jalan menuju pabrik yang kurang baik.
  1. Pengangkutan/Transportasi
Transportasi yang digunakan di Perkebunan Indragiri plasma menggunakan truk, truk itu sendiri telah di sediakan oleh masing-masing KUD. Namun kendala yang sering terjadi adalah jika curah hujan tinggi maka pengangkutan menjadi terhalang karena jalan yang kurang baik sehingga banyak truk yang terperosok, tetapi semua itu masih dapat terkendali dengan melakukan pengangkutan menggunkan gander. Gander  itu sendiri di pinjamkan oleh perusahaan dengan beban biaya yang akan di tanggung oleh KUD.
  1. Pengolahan
Pengelohan TBS di lakukan oleh PKS, pihak perkebunan hanya memantau hingga grading di PKS. Grading ini bertujuan untuk melihat jumlah buah mentah, buah matang dan buah terlalu matang. Asisten divisi di tempat grading untuk memastikan bahwa grading yang dilakukan di PKS sesuai dengan standarnya dan juga untuk mengecek TBS dari divisi yang dipimpinnya.